Arus Jatim – Kawasan Car Free Day (CFD) yang membentang di sepanjang Jalan Dhoho, urat nadi perekonomian dan sejarah Kota Kediri kini tengah bersiap menyongsong wajah baru yang lebih modern dan tertata.
Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri saat ini mengambil langkah strategis dan terukur untuk melakukan penataan ulang secara menyeluruh terhadap ratusan lapak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini memadati area tersebut.
Tujuan utama dari megaproyek penataan ini sangat jelas: mentransformasi kawasan yang identik dengan olahraga Minggu pagi tersebut menjadi sebuah destinasi wisata kuliner yang tertib, bersih, nyaman, dan berdaya saing tinggi bagi pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan dari luar kota.
Langkah penataan ulang ini dipastikan tidak dilakukan secara mendadak atau terkesan sepihak layaknya penggusuran. Jauh sebelum rencana ini dieksekusi di lapangan, Pemkot Kediri telah mengedepankan pendekatan persuasif dan dialogis.
Ratusan pedagang yang rutin mengais rezeki di kawasan CFD Jalan Dhoho telah dikumpulkan dalam berbagai forum pembinaan. Langkah mediasi ini menjadi krusial untuk menyamakan visi, frekuensi, dan pemahaman antara pemerintah dan pelaku usaha.
Pemerintah ingin menegaskan bahwa penataan ini bukan untuk membatasi ruang gerak pedagang, melainkan sebuah lompatan besar untuk memajukan perekonomian daerah secara kolektif dan menciptakan ekosistem bisnis yang lebih sehat.
Pendampingan Legalitas Usaha dan Signifikansi Sertifikasi Halal
Dalam proses penataan kawasan yang ambisius ini, intervensi pemerintah rupanya tidak hanya berhenti pada urusan fisik seperti mengatur letak tenda, menyamakan ukuran gerobak, atau menggeser posisi lapak pedagang.
Lebih jauh dan mendalam dari itu, Pemkot Kediri berkomitmen penuh untuk memberikan pendampingan komprehensif dari sisi legalitas administrasi dan peningkatan kualitas produk UMKM itu sendiri.
Menurut Bayu, salah satu perwakilan instansi terkait yang mengawal jalannya program ini, pihaknya telah menyiapkan serangkaian fasilitas pendampingan gratis yang bisa langsung dimanfaatkan oleh para pelaku usaha kecil.
“Kami tidak hanya menata tempat, tapi kami juga menyiapkan pendampingan berupa fasilitasi pengurusan sertifikasi halal, penerbitan izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), serta melakukan pendataan usaha secara menyeluruh. Tujuannya sangat jelas, agar pembinaan UMKM ini bisa dilakukan secara berkelanjutan dan produk mereka diakui kualitasnya secara nasional,” jelas Bayu.
Di era konsumen modern yang semakin kritis saat ini, label Halal dan nomor PIRT bukan lagi sekadar pajangan birokrasi, melainkan nilai jual (unique selling proposition) yang sangat kuat. Dengan mengantongi legalitas tersebut, produk jajanan pasar atau makanan kemasan dari CFD Jalan Dhoho akan memiliki standar kebersihan dan keamanan yang terjamin.
Melalui pendataan yang rapi dan terintegrasi di database pemerintah kota, kualitas produk serta daya saing para pelaku UMKM diharapkan dapat terus melonjak naik dari waktu ke waktu, memungkinkan mereka untuk naik kelas dari sekadar pedagang kaki lima menjadi pengusaha kuliner profesional.
Baca juga: Puncak Rembangan Jember: Panorama Kota dari Ketinggian 650 Mdpl, Ini Rute dan Tarif Terbarunya
Mengurai Kesemrawutan: Fokus Ekstra pada Kenyamanan dan Kebersihan
Selain mendongkrak kualitas produk kuliner dari sisi internal, penataan ulang ini juga akan secara agresif membereskan sejumlah masalah klasik yang kerap menjadi keluhan tahunan di kawasan CFD.
Kesemrawutan lapak dagangan yang memakan badan jalan, tenda yang didirikan serampangan, hingga minimnya kesadaran akan pengelolaan sampah sisa makanan sering kali membuat kawasan ini terlihat kumuh usai acara berakhir.
Ke depannya, Pemkot akan memberlakukan sistem zonasi. Dengan alokasi ruang berjualan yang diatur menggunakan garis batas dan jarak yang lebih teratur, arus lalu lintas manusia akan menjadi jauh lebih lancar.
Para pengunjung CFD nantinya dapat melakukan aktivitas utama mereka, yakni berolahraga seperti joging atau bersepeda, bersantai bersama keluarga, dan menikmati aneka jajanan khas Kediri tanpa harus berdesak-desakan dengan pejalan kaki lain maupun berebut jalan dengan gerobak pedagang.
“Penataan tata ruang ini sangat krusial. Hal tersebut diharapkan menjadikan CFD Jalan Dhoho sebagai kawasan yang tertib, nyaman, tidak kumuh, yang pada akhirnya akan sekaligus memperkuat daya tarik wisata Kota Kediri di mata wisatawan luar daerah,” tegas Bayu menambahkan.

Angin Segar untuk Kebangkitan Ekosistem Pariwisata Lokal
Upaya serius nan sistematis dari Pemkot Kediri ini menjadi embusan angin segar bagi ekosistem pariwisata lokal yang tengah berusaha bangkit pasca-pandemi. Kota Kediri menyadari bahwa mereka memiliki potensi wisata kuliner jalanan (street food) yang luar biasa, dan Jalan Dhoho adalah etalase utamanya.
Jika skema penataan kawasan UMKM ini berjalan sukses dan dipatuhi oleh seluruh pemangku kepentingan, efek dominonya terhadap perekonomian daerah akan sangat masif. CFD Jalan Dhoho tidak lagi hanya sekadar dipandang sebagai ruang publik biasa tempat warga membuang keringat di Minggu pagi.
Kawasan ini akan bersalin rupa, menjelma menjadi ikon pariwisata terpadu, pusat inkubasi UMKM yang modern, dan destinasi wisata kuliner andalan yang siap menjadi mesin utama penggerak roda ekonomi kerakyatan di Kota Tahu. Warga Kediri kini bersiap menyambut Jalan Dhoho yang baru: lebih bersih, lebih tertata, dan pastinya jauh lebih membanggakan.
.gif)





