KEDIRI, ARUS JATIM – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana kembali menyuguhkan event nguri-uri budaya, Parade Cikar 2026. Parade tahunan yang kini telah terselenggara untuk kelima kalinya ini kembali menyita animo masyarakat pada Sabtu (22/8) pagi. Rangkaian peringatan HUT ke-81 RI ini menjadi langkah strategis Pemkab Kediri untuk melestarikan budaya sekaligus memajukan sektor peternakan daerah.
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri tahun ini mengusung tema “Merawat Tradisi, Melangkah Bersama, Membangun Kediri”. Parade menempuh rute sepanjang 5,5 km, dimulai dari Taman Totok Kerot, Kecamatan Pagu, dan berakhir di depan PD BPR Bank Daerah Kabupaten Kediri.
Sapi Sebagai Simbol Kemakmuran
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, mengungkapkan bahwa parade ini lebih dari sekadar mengenang masa lalu. Menurutnya, hewan ternak seperti sapi merupakan simbol kemakmuran masyarakat yang harus terus dilestarikan.
“Kalau kendaraan bermotor nilainya selalu turun dan butuh biaya perawatan tinggi. Sebaliknya, peternakan adalah potensi ekonomi luar biasa, terlebih saat ini masih ada kesenjangan dalam pemenuhan tingginya kebutuhan daging dan susu,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, Pemkab Kediri juga membagikan 2.000 butir telur rebus gratis kepada masyarakat sebagai bagian dari edukasi pentingnya asupan protein hewani yang bergizi.
Peserta Meningkat, Libatkan Anak-Anak
Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri, drh Tutik Purwaningsih, mengatakan parade tahun kelima ini lebih istimewa dibanding tahun-tahun sebelumnya karena dikemas dengan konsep yang lebih melibatkan langsung masyarakat umum dan anak-anak.
Tahun ini, parade diikuti oleh 43 cikar dan 86 ekor sapi jenis Peranakan Ongole (PO) serta Brahman — meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya diikuti 40 cikar. Peserta berasal dari 10 kecamatan, dengan dominasi dari Kecamatan Wates dan Ngadiluwih.
Selain melibatkan para badjingan (sebutan tradisional untuk pengemudi cikar sapi), tahun ini DKPP juga memberikan pengalaman langsung kepada 50 siswa SDN 1 Wonosari untuk menaiki cikar. Sebelum berangkat, anak-anak mendapat sosialisasi makanan bergizi dari olahan peternakan serta sarapan produk peternakan berupa susu, telur, hingga abon.
Melalui event ini, Pemkab Kediri ingin mensosialisasikan kepada masyarakat dan anak-anak bahwa ternak sapi merupakan salah satu potensi luar biasa. Kisah sukses para peternak, termasuk para bajingan, diharapkan menjadi contoh dan cerita inspiratif bagi generasi muda.
“Ini adalah bentuk edukasi bagi anak-anak yang mungkin belum tahu bahwa moda transportasi utama petani sebelum adanya truk adalah cikar,” ujar Tutik.
Screening Kesehatan Ketat
Tutik menambahkan, demi memastikan kelancaran acara, seluruh sapi telah melewati screening kesehatan ketat pada H-10 untuk mencegah penularan penyakit. Hasilnya, ditemukan 3 ekor sapi yang belum lolos seleksi sehingga tidak jadi tampil.
“Sebelumnya ada 46 cikar, namun kami seleksi menjadi 43,” ungkapnya.
Kriteria Penilaian
Dalam memperebutkan gelar juara dan predikat terfavorit, peserta dinilai oleh dewan juri berdasarkan tiga poin utama:
- Keaslian konsep cikar – mempertahankan bentuk asli roda dan konstruksi cikar tradisional meski terdapat modifikasi.
- Kreativitas hiasan – peserta diwajibkan menampilkan produk-produk pertanian lokal unggulan Kabupaten Kediri sebagai muatan.
- Kondisi sapi – dinilai dari performa, kesehatan, dan bobot ideal.
.webp)












