
KEDIRI, ARUS JATIM – Kapasitas produksi UMKM Sari Kedelai D’Oyun di Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten, kini melonjak tajam. Peningkatan signifikan ini merupakan dampak langsung dari intervensi teknologi mesin Soya Extractor yang diimplementasikan oleh Fakultas Vokasi Universitas Negeri Malang (UM).
Kehadiran mesin ini merombak total alur produksi konvensional yang selama ini menguras waktu dan tenaga. Sebelumnya, dengan mengandalkan blender rumah tangga dan pemerasan kain manual, ekstraksi 5 kilogram kedelai memakan waktu hingga 85 menit. Namun, mesin Soya Extractor memangkas drastis waktu tersebut menjadi hanya 13 menit.
Mesin ini bekerja sangat efisien karena menyatukan proses penggilingan dan pemisahan ampas secara kontinu menggunakan prinsip gaya sentrifugal (centrifugal separation). Digerakkan oleh motor listrik 750 Watt dengan kecepatan 2.800 rpm, mesin ini mampu mengekstrak bahan baku hingga 25 kilogram per jam.
“Dampaknya sangat nyata. Kapasitas produksi harian mitra yang awalnya hanya 30 hingga 40 botol, kini langsung menembus angka lebih dari 100 botol per hari,” ungkap Ketua Tim Pengabdian UM, Obaja Eden Sentosa Riyanto.
Tidak hanya menang soal kecepatan, mesin ini juga meningkatkan kuantitas dan kualitas perasan. Rendemen sari kedelai terbukti naik 15–18 persen, ditandai dengan ampas sisa yang jauh lebih kering dibandingkan metode manual.
Selain itu, karena seluruh komponen mesin yang bersentuhan dengan kedelai terbuat dari stainless steel SUS 304 berstandar food grade, higienitas produk sangat terjamin dan terhindar dari risiko kontaminasi kontak tangan langsung.
Surplus waktu dan tenaga dari penggunaan mesin ini kini dimanfaatkan sepenuhnya oleh UMKM D’Oyun untuk ekspansi bisnis.
Tak lagi hanya mengandalkan rasa original, D’Oyun kini sukses meracik empat varian rasa kekinian—cokelat, melon, red velvet, dan matcha—serta mulai melayani pesanan dari luar wilayah kecamatan berkat penerapan pemasaran digital.
.webp)









