Vendor Outbound Batu Malang

Inovasi Teknologi Tepat Guna, KKN UB Kediri Manfaatkan Biokonversi Maggot untuk Warga Mrican

Anwar Basalamah

28/07/2026

4
Min Read
Mahasiswa KKN Kelompok 01 Mrican UB Kediri. (Foto: Dok. PSDKU UB Kediri)

Daftar isi artikel ...

KEDIRI, ARUS JATIM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri sukses menginisiasi gerakan nyata berbasis lingkungan melalui penerapan ekonomi sirkular di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Hariadi Darmawan, mahasiswa menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) yang memadukan biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF) dan budidaya ikan dalam ember (Budikdamber).

Program kolaboratif yang dilaksanakan sepanjang 1 hingga 30 Juli 2026 ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan lingkungan sekaligus mendorong kemandirian pangan warga, dengan sasaran utama kaum ibu di lingkungan RW 3 dan RW 4 Kelurahan Mrican.

Baca Juga: Putus Rantai Kemiskinan Anak Buruh Tani, Jesselyn Michelle Setiobudi Luncurkan EduHope Foundation

Ketua KKN Kelompok 01 Mrican UB Kediri, Delima Tarigan, mengungkapkan bahwa program ini dirancang sebagai solusi konkret atas problematika perkotaan yang dihadapi warga.

“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah organik rumah tangga, tetapi juga memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat setempat melalui pemanfaatan hasil samping seperti pupuk dan pakan ikan mandiri,” jelas Delima.

Menjawab Tantangan Perkotaan Lewat Inovasi Wilayah

Latar belakang pelaksanaan program ini berpijak pada kondisi riil di lapangan. Berdasarkan pemetaan potensi wilayah yang dilakukan oleh tim KKN, Kelurahan Mrican menyimpan potensi besar dalam pengembangan ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.

Di satu sisi, RW 03 mengusung tema zero waste organic, namun masih menghadapi kendala berupa tingginya volume sampah organik rumah tangga dan sampah kemasan yang membutuhkan penanganan lebih sistematis dari sumbernya. Di sisi lain, RW 04 memiliki prospek yang sangat baik sebagai kawasan pengembangan urban farming, tetapi terkendala oleh masalah klasik perkotaan, yakni keterbatasan lahan.

Kondisi tersebut menuntut adanya solusi inovatif yang tidak hanya mampu mereduksi timbulan sampah organik secara mandiri, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan ruang yang terbatas agar tetap produktif secara ekonomi.

Alur Sistem Ekonomi Sirkular dan Pemanfaatan TTG

Untuk menjawab persoalan tersebut, Tim KKN Kelompok 01 Mrican UB Kediri merancang alur operasional sistem ekonomi sirkular yang terintegrasi secara siklikal dari hulu ke hilir.

Proses dimulai dari pemilahan sampah rumah tangga secara cermat antara sampah organik dan nonorganik. Sampah organik murni—seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan sisa makanan—kemudian dimasukkan ke dalam mesin pencacah agar ukuran materialnya menjadi jauh lebih kecil dan mudah diurai.

Setelah melalui proses pencacahan, bahan organik tersebut difermentasi selama 3 hingga 4 hari hingga teksturnya melunak. Larva BSF atau maggot kemudian diberi makan dari hasil fermentasi tersebut. Melalui proses biokonversi maggot, volume sampah organik dapat ditekan secara signifikan sekaligus menghasilkan biomassa maggot berprotein tinggi.

Tidak berhenti sampai di situ, seluruh rangkaian proses ini menghasilkan keluaran ganda (output) yang dimanfaatkan secara maksimal oleh warga:

  • Pupuk Organik Cair (POC): Cairan hasil dekomposisi dan fermentasi limbah organik yang kaya unsur hara, sangat ideal digunakan untuk menyuburkan tanaman.
  • Kasgot (Bekas Maggot): Sisa media padat setelah dikonsumsi oleh maggot, yang terbukti kaya akan nutrisi dan sangat baik dimanfaatkan sebagai media tanam pengganti tanah konvensional.
  • Pakan Alternatif Lele: Maggot yang telah mencapai usia panen diolah dan dimanfaatkan langsung sebagai pakan berprotein tinggi untuk mendukung sistem Budikdamber, sehingga mampu menekan biaya operasional pembelian pakan komersial secara drastis.
  • Instalasi Budikdamber: Perangkat budidaya ikan lele dalam ember yang diintegrasikan secara langsung dengan pemanfaatan POC dan kasgot untuk menyokong kebutuhan pangan keluarga.

Rangkaian Pelaksanaan dan Dampak Nyata di Masyarakat

Program biokonversi dan Budikdamber ini dieksekusi melalui tahapan yang terstruktur sepanjang bulan Juli 2026. Kegiatan diawali dengan sosialisasi intensif kepada warga di RW 03, yang kemudian diperluas ke wilayah RW 04 guna membangun pemahaman komprehensif mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Usai sesi sosialisasi, warga mulai aktif mengumpulkan sampah organik rumah tangga secara mandiri untuk dipasok sebagai bahan baku budidaya maggot. Puncak dari rangkaian program ini ditandai dengan penyerahan instalasi Budikdamber secara resmi kepada warga pada 22 Juli 2026. Delima Tarigan menambahkan bahwa antusiasme warga, khususnya para ibu-ibu PKK serta dukungan bapak-bapak di Kelurahan Mrican, menjadi kunci utama keberhasilan implementasi program ini di lapangan.

“Kami sangat mengapresiasi keaktifan warga Mrican yang antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari pemilahan sampah hingga penerimaan instalasi Budikdamber. Harapannya, sistem yang telah kami bangun ini dapat terus dilanjutkan secara mandiri demi memperkuat ketahanan pangan keluarga ke depan,” ujarnya.

Melalui penerapan program ini, masyarakat Kelurahan Mrican kini memiliki bekal keterampilan praktis untuk mengurangi volume sampah organik dari tingkat rumah tangga.

Selain itu, integrasi biokonversi maggot dan Budikdamber terbukti mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang nyata—mulai dari kemandirian penyediaan pakan ikan yang lebih terjangkau, ketersediaan pupuk organik untuk menyuburkan tanaman pekarangan, hingga penguatan ketahanan pangan keluarga di tengah tantangan perkotaan.

Provider Rafting Batu Malang

Related Post