Flexing digital, kebiasaan memamerkan pencapaian material di media sosial melalui layar ponsel, bukan sekadar tren konten.
Perilaku ini terbukti secara psikologis mendorong perilaku konsumtif yang mengancam stabilitas keuangan penggunanya, terutama di Indonesia yang menjadi salah satu negara dengan intensitas penggunaan media sosial tertinggi di dunia.
Laporan Digital 2024 yang dirilis We Are Social mencatat bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 3 jam 11 menit per hari di media sosial, jauh di atas rata-rata global yang hanya 2 jam 31 menit.
Selama waktu itulah paparan konten flexing berlangsung tanpa henti, membentuk standar hidup semu yang sulit dibendung.
Apa Itu Flexing Digital dan Mengapa Ia Berbahaya?
Flexing digital adalah praktik mengunggah konten yang memamerkan kekayaan, barang mewah, atau gaya hidup tertentu di platform media sosial dengan tujuan memperoleh validasi sosial.
Menurut Cambridge Dictionary, flexing merupakan tindakan memperlihatkan sesuatu yang dimiliki seseorang dengan cara yang kerap dipersepsikan orang lain sebagai upaya menonjolkan kemewahan secara berlebihan.
Bahayanya tidak berhenti di pelaku. Audiens yang terus-menerus terpapar konten flexing mengalami tekanan psikologis untuk menyamakan atau melampaui standar yang mereka lihat, meskipun standar tersebut tidak mencerminkan realitas finansial kebanyakan orang.
Baca juga: Tren Cyberdeck: Komputer Rakitan yang Digemari Gen Z di Tengah Dominasi AI
Bagaimana Flexing Digital Memicu Perilaku Konsumtif?
Paparan konten flexing memicu mekanisme psikologis yang dikenal sebagai perbandingan sosial ke atas.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology mengonfirmasi bahwa perbandingan sosial ke atas di platform media sosial secara signifikan mendorong sifat materialistis dan perilaku belanja kompulsif secara daring.
Dari sisi ekonomi, flexing mendorong budaya konsumtif berlebihan. Ketika individu terus-menerus terpapar gaya hidup mewah di media sosial, mereka terdorong mengeluarkan lebih banyak uang demi mengikuti tren tersebut, sering tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial nyata mereka.
Hasilnya, pengeluaran impulsif meningkat, sementara tabungan dan dana darurat diabaikan demi mempertahankan citra digital yang sebenarnya tidak mencerminkan kondisi riil.
Apa Dampak Flexing Digital terhadap Mental Finansial?
Mental finansial yang rusak akibat flexing digital ditandai oleh pergeseran prioritas keuangan secara mendasar. Berikut pola yang umum terjadi:
- Pengeluaran untuk gengsi digital didahulukan di atas kebutuhan pokok dan investasi
- Dana darurat dibiarkan kosong karena anggaran habis untuk barang yang “terlihat bagus difoto”
- Utang konsumtif menumpuk akibat pembelian impulsif demi mengikuti konten yang viral
- Rasa cemas finansial meningkat karena perbandingan standar hidup yang tidak realistis
- Tabungan jangka panjang terhenti karena fokus bergeser ke kepuasan jangka pendek
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Komunikologi UINSU mengonfirmasi bahwa flexing menimbulkan tekanan sosial yang berpengaruh pada kondisi psikologis serta pola interaksi sosial pengguna, baik di lingkungan digital maupun nyata.
Baca juga: Puncak Rembangan Jember: Panorama Kota dari Ketinggian 650 Mdpl, Ini Rute dan Tarif Terbarunya
Apakah Flexing Selalu Berdampak Negatif?
Tidak selalu, namun risiko negatifnya jauh lebih dominan bagi konsumen pasif. Penelitian menunjukkan bahwa flexing dapat berperan sebagai strategi efektif dalam membangun identitas sosial dan meningkatkan motivasi individu.
Generasi Z memanfaatkan flexing sebagai bentuk personal branding yang berfungsi sebagai sarana membangun citra inspiratif sekaligus mendorong semangat bagi anggota komunitas digital lainnya.
Perbedaannya terletak pada posisi pengguna: mereka yang aktif membangun personal branding berbasis nilai nyata cenderung meraup manfaat, sementara mereka yang sekadar mengonsumsi konten flexing rentan terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial yang merusak keuangan.
Bagaimana Cara Keluar dari Jebakan Flexing Digital?
Langkah pertama adalah menyadari bahwa konten yang terlihat mewah di media sosial tidak mencerminkan kondisi keuangan sesungguhnya. Sebagian besar konten flexing adalah konstruksi citra, bukan potret kekayaan riil.
Langkah konkret yang bisa diterapkan segera antara lain menghapus atau berhenti mengikuti akun yang memicu kecemasan finansial, menerapkan jeda 24 jam sebelum melakukan pembelian tidak mendesak, dan mengalihkan alokasi dana gengsi ke instrumen investasi yang bisa dipantau langsung lewat aplikasi resmi di ponsel.
Para peneliti menegaskan bahwa kesadaran finansial dan kemampuan reflektif menjadi faktor utama agar perilaku konsumsi tetap rasional meskipun berada di tengah arus budaya digital yang kuat.
Flexing digital adalah fenomena yang memanfaatkan celah psikologis manusia untuk memicu perbandingan sosial dan perilaku konsumtif yang tidak rasional.
Data We Are Social 2024 menunjukkan masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial, menjadikan paparan konten flexing sebagai risiko finansial nyata yang tidak bisa diabaikan.
Solusinya bukan menjauhi teknologi, melainkan meningkatkan kesadaran finansial dan menggunakan ponsel sebagai alat membangun kekayaan nyata, bukan sekadar panggung validasi digital.
.gif)




