Vendor Outbound Batu Malang

Petik Laut Muncar 2026: Tradisi Syukuran Nelayan Banyuwangi di Tanjung Sembulungan

Alam

04/07/2026

4
Min Read
Prosesi pelepasan sesaji tradisi petik laut muncar
Ilustrasi Prosesi pelepasan sesaji tradisi petik laut muncar. Sumber: Wikipedia.

Arus JatimTradisi Petik Laut Muncar adalah ritual syukuran tahunan masyarakat nelayan pesisir Muncar, Banyuwangi, yang pada 2026 digelar Rabu, 1 Juli, bertepatan dengan 15 Suro dalam penanggalan Jawa dan Hijriah.

Ribuan nelayan mengarak puluhan perahu mengiringi satu perahu sesaji menuju perairan Tanjung Sembulungan untuk melarung kepala kambing kendit berkail emas, sebagai simbol harapan hasil tangkapan melimpah dan keselamatan selama melaut.

Tradisi yang dipercaya sudah berlangsung lebih dari satu abad ini memadukan nilai adat, keagamaan, dan kepedulian terhadap kelestarian laut, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya andalan pesisir Banyuwangi.

Apa Itu Tradisi Petik Laut Muncar dan Sejak Kapan Dilestarikan?

Petik Laut Muncar adalah ritual sedekah laut yang digelar nelayan Muncar setiap 15 Suro sebagai ungkapan syukur atas hasil laut sepanjang tahun sekaligus doa keselamatan melaut.

Tradisi ini diyakini bermula pada awal abad ke-20, sekitar 1900 hingga 1927, digagas oleh seorang penyebar agama Islam bernama Sayyid Yusuf saat wilayah Muncar dilanda paceklik ikan.

Ia mengajak warga bersatu, berdoa, dan melarung sesaji ke laut sebagai wujud syukur dan permohonan keselamatan.

Kebiasaan itu terus dijaga hingga kini dan menyatukan warga Muncar yang merupakan percampuran etnis Jawa, Osing, Madura, Bugis, dan Mandar sejak era Kerajaan Blambangan.

Seiring waktu, nuansa mistis yang dulu kental dalam ritual ini berangsur bergeser menjadi perayaan yang memadukan nilai adat, keagamaan, dan kepedulian lingkungan, tanpa menghilangkan esensi syukur yang menjadi akar tradisi.

Bagaimana Prosesi Ritual Petik Laut Muncar 2026 Berlangsung?

Prosesi Petik Laut Muncar 2026 dimulai dengan doa bersama dan pelepasan iring-iringan perahu dari Pelabuhan Muncar, dilanjutkan penyematan sesaji, lalu ditutup dengan pelarungan di tengah laut.

Pelepasan Perahu dan Doa Bersama di Pelabuhan Muncar

Iring-iringan puluhan perahu dilepas dari Pelabuhan Muncar dan berlayar hampir satu jam mengarungi lautan menuju lokasi pelarungan.

Sebelum kirab dimulai, doa bersama dipimpin Kepala KUA Kecamatan Muncar, H. Amin Maki, diikuti unsur Forkopimka, tokoh agama, tokoh masyarakat, nelayan, dan ribuan warga yang memadati lokasi acara.

Sesaji Kepala Kambing Kendit Berkail Emas

Prosesi sakral ditandai penyematan kail emas seberat lima gram pada kepala kambing kendit yang menjadi sesaji utama, dipasang di bagian mulut atau lidah sebagai simbol harapan hasil tangkapan melimpah dan kemudahan rezeki.

Sesaji diletakkan di atas gitik atau perahu kecil dan dihiasi aneka hasil bumi, ayam, serta bebek.

Pelarungan di Tanjung Sembulungan dan Ziarah ke Makam Kiai Ageng Kalong

Seluruh sesaji dilarung di perairan Tanjung Sembulungan.

Usai pelarungan, rombongan perahu melanjutkan perjalanan menuju Makam Kiai Ageng Kalong Sembulung, sesepuh yang diyakini masyarakat sebagai pembuka kawasan hutan Muncar.

Apa Makna dan Harapan Nelayan dalam Tradisi Petik Laut Muncar?

Bagi nelayan Muncar, Petik Laut adalah warisan leluhur yang diyakini membawa berkah bagi hasil tangkapan sekaligus keselamatan selama melaut.

Ketua Panitia Petik Laut Muncar, Hasan Basri, menjelaskan bahwa musim ikan yang baik pada 2025 diyakini berkat pelaksanaan ritual tahun sebelumnya, sehingga harapan serupa disematkan pada pelaksanaan tahun ini agar musim ikan tetap menguntungkan nelayan.

Ia menambahkan bahwa tradisi ini diharapkan terus memberi kesejahteraan, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh nelayan Muncar.

Rangkaian doa bersama yang dipimpin KUA turut memperkuat dimensi religius acara, sekaligus menjadi momentum kepedulian sosial lewat penyaluran santunan anak yatim piatu oleh BAZNAS Unit Pengumpul Zakat Kecamatan Muncar.

Bagaimana Antusiasme Warga dan Wisatawan Menyaksikan Petik Laut Muncar?

Selain diikuti nelayan, ribuan warga turut memadati kawasan pesisir untuk menyaksikan prosesi yang hanya digelar setahun sekali ini.

Warga Muncar, Indah Wulansari, mengaku selalu menyempatkan diri hadir setiap tahun karena momen ini jarang bisa disaksikan langsung dan ingin ikut menaiki perahu kirab meski kerap kehabisan tempat.

Antusiasme serupa turut didukung rangkaian acara pendukung, seperti lomba dayung antar nelayan yang diikuti puluhan peserta di kolam Villa Gumuk Emas, Paludem, menjelang puncak prosesi.

Rangkaian acara ini membuat Petik Laut Muncar tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga atraksi budaya yang menghidupkan ekonomi lokal lewat kunjungan wisatawan, jasa penyeberangan perahu, dan pedagang kuliner musiman di sepanjang pesisir.

Apa Peran Petik Laut Muncar bagi Budaya dan Ekonomi Pesisir Banyuwangi?

Petik Laut Muncar berperan sebagai ikon budaya bahari sekaligus penggerak ekonomi pesisir Banyuwangi lewat sektor wisata dan perdagangan lokal.

Pada edisi 2026, perayaan ini mengusung semangat menjaga kelestarian laut sebagai amanah bagi generasi mendatang, tidak lagi sekadar seremoni tahunan.

Perpaduan nilai spiritual, tradisi bahari, seni budaya, dan gotong royong menjadikan Petik Laut Muncar salah satu agenda budaya pesisir yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Sekaligus melengkapi daftar tradisi khas Banyuwangi seperti Seblang Olehsari dan Kebo-Keboan Alasmalang dalam kalender wisata budaya daerah.

Bagi pemerintah daerah, tradisi semacam ini juga menjadi modal penguatan identitas lokal sekaligus strategi pembangunan pariwisata berbasis kearifan masyarakat pesisireh. Sehingga pelestariannya diharapkan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan nelayan Muncar dari tahun ke tahun.

Provider Rafting Batu Malang

Related Post